Panduan Wisata Banyuwangi Pohon-pohon trembesi berusia puluhan tahun dengan dahan berselimut tanaman paku membuat siapa pun merasa seperti masuk ke dunia fantasi. Purwosari, Benculuk, Kec. Cluring, ±31 km dari kota Sekitar Rp10.000/orang; parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000 Setiap hari 08.00–17.00 WIB Pagi hari kerja untuk cahaya lembut dan suasana sepi Informasi diperiksa per 13 Oktober 2026. Tarif dan jadwal dapat berubah sewaktu-waktu; konfirmasi ke pengelola sebelum berangkat. Ada hutan di Banyuwangi yang sering dibandingkan dengan latar film fantasi. Batang-batang pohonnya besar dan kokoh, dahannya melebar seperti payung, dan hampir setiap jengkal kulit kayunya ditumbuhi lumut serta tanaman paku. Saat cahaya pagi menembus sela daun, suasananya terasa magis. Tempat itu adalah Hutan De Djawatan Benculuk. Berbeda dari wisata alam lain di Banyuwangi yang menuntut pendakian atau perjalanan jauh, De Djawatan mudah dijangkau dan nyaman untuk semua usia. Anda cukup berjalan santai, mencari sudut foto favorit, lalu duduk menikmati teduhnya hutan. Berikut informasi lengkap sebelum Anda berkunjung. De Djawatan berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kawasan ini dikelola di bawah Perhutani dan dulunya berfungsi sebagai area penimbunan kayu jati. Sejak 2018, lahan ini dibuka sebagai tempat wisata dan cepat populer berkat foto-foto pengunjung di media sosial. Daya tarik utamanya adalah pohon trembesi (Samanea saman) yang tumbuh rapat dan homogen. Pohon-pohon tua ini menjadi rumah bagi tumbuhan epifit, sehingga batang dan dahannya tampak hijau berselimut. Luas kawasan disebut berbeda-beda di berbagai sumber, berkisar 6 hingga 9 hektare, jadi tidak perlu khawatir kelelahan saat menjelajahinya. Karena sifatnya yang teduh dan datar, De Djawatan cocok untuk wisata keluarga, foto prewedding, atau sekadar rehat di tengah perjalanan panjang ke Banyuwangi selatan. Hampir semua sudut di De Djawatan layak difoto. Barisan pohon dengan dahan melengkung menciptakan bingkai alami. Untuk hasil terbaik, ambil foto dari posisi rendah ke arah atas agar kanopi terlihat penuh. Jalur di dalam hutan relatif datar dan mudah dilalui anak-anak maupun lansia. Banyak pengunjung menggelar tikar di bawah pohon dan menikmati bekal. Dalam satu sampai dua jam, area utama sudah bisa dijelajahi dengan santai. Pengunjung yang ingin berkeliling tanpa banyak berjalan bisa menyewa andong. Tersedia pula ATV dengan biaya terpisah. Tarif kedua wahana ini belum kami temukan dalam sumber resmi, jadi tanyakan di lokasi. Beberapa kafe dan warung kecil berada di dalam kawasan. Menyeruput kopi di bawah pohon raksasa menjadi cara sederhana untuk menikmati suasana. De Djawatan populer untuk sesi foto prewedding dan pembuatan konten. Jika Anda membawa drone, tanyakan dulu aturan penerbangan kepada petugas karena kebijakannya bisa berubah. Alamat: Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. De Djawatan berjarak sekitar 31 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Dari kota, arahkan kendaraan ke selatan menuju pertigaan Benculuk, lalu ikuti petunjuk ke lokasi. Hutan berada di dekat jalur Banyuwangi–Jember, sehingga sering disinggahi wisatawan yang datang dari arah barat. Beberapa pengunjung menyebut papan penunjuk di pintu masuk kurang mencolok. Gunakan aplikasi peta dan perhatikan baik-baik saat mendekati lokasi agar tidak terlewat. Jika berangkat dari Jember, Malang, atau Surabaya, Anda akan melewati wilayah Cluring sebelum tiba di kota Banyuwangi. Jadi De Djawatan bisa menjadi pemberhentian pertama setelah perjalanan panjang. Berdasarkan informasi yang dihimpun media, biaya masuk De Djawatan tergolong murah: Sebagian sumber lain menyebut tiket lokal berkisar Rp6.000 hingga Rp15.000 dan tarif berbeda untuk wisatawan asing. Karena angkanya bervariasi, anggap tabel di atas sebagai perkiraan dan pastikan di loket. De Djawatan buka setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB. Beberapa sumber menyebut jam tutup hingga 17.30 dengan masuk terakhir sekitar 16.30. Datang sebelum pukul 16.00 agar Anda punya cukup waktu. Waktu terbaik adalah pagi hari, ketika cahaya masih lembut dan berkas sinar matahari menembus kanopi. Sore menjelang tutup juga menarik untuk foto dengan cahaya keemasan. Akhir pekan dan musim libur bisa sangat ramai, sehingga suasana hutan yang sepi sulit didapat. Pilih hari kerja jika memungkinkan. Fasilitas ini membuat De Djawatan nyaman untuk kunjungan keluarga, termasuk dengan anak kecil dan lansia. Trembesi sering disebut pohon hujan karena daunnya menutup saat cuaca mendung atau menjelang malam. Pohon ini dikenal memiliki tajuk yang sangat lebar, sehingga satu pohon dewasa bisa menaungi area yang luas. Itu sebabnya De Djawatan terasa teduh meski di siang hari yang terik. Tumbuhan yang menempel di batang dan dahan trembesi disebut epifit. Mereka menumpang hidup tanpa merugikan pohon inang, memanfaatkan kelembapan dan celah kulit kayu. Paku-pakuan, lumut, dan anggrek liar adalah contoh epifit yang sering terlihat. Kombinasi pohon tua dan epifit inilah yang memberi kesan hutan purba. Saat berkunjung, perhatikan detail-detail kecil ini. Anda akan menyadari bahwa keindahan De Djawatan bukan hanya soal latar foto, tetapi juga ekosistem kecil yang hidup di setiap pohon. De Djawatan sangat cocok untuk keluarga dengan anak kecil, rombongan lansia, pasangan yang mencari lokasi foto, hingga komunitas fotografi. Tempat ini juga ideal sebagai titik istirahat bagi rombongan yang menempuh perjalanan panjang dari arah Jember menuju Banyuwangi selatan. Bagi Anda yang mencari petualangan atau pendakian, De Djawatan mungkin terasa terlalu santai. Jadikan sebagai pelengkap, bukan tujuan utama perjalanan. De Djawatan berada di jalur menuju Banyuwangi selatan, sehingga mudah digabung dengan: Waktu tempuh adalah perkiraan. Sesuaikan dengan kondisi lalu lintas dan kecepatan rombongan. Di Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, sekitar 31 kilometer dari pusat kota. Sekitar Rp10.000 per orang, dengan parkir motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000. Angka di sumber lain bervariasi, jadi pastikan di loket. Setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB. Datang sebelum pukul 16.00 agar sempat berkeliling. Didominasi pohon trembesi tua yang batang dan dahannya ditumbuhi tumbuhan epifit seperti paku-pakuan. Sangat cocok. Jalurnya datar dan teduh, tersedia toilet, musala, warung, serta andong untuk berkeliling. Umumnya 1–2 jam sudah cukup untuk berkeliling dengan santai dan berfoto. Hutan De Djawatan membuktikan bahwa wisata alam tidak selalu harus melelahkan. Anda mendapatkan pemandangan pohon raksasa yang memukau, jalur yang ramah keluarga, dan biaya yang terjangkau. Tempat ini pas sebagai pemberhentian pertama setelah perjalanan jauh atau pemanasan sebelum menjelajah Banyuwangi selatan. Datanglah pagi hari, jaga kebersihan, dan biarkan pepohonan tua itu tetap utuh untuk pengunjung berikutnya. Jika Anda berangkat dari Surabaya, Malang, atau Bali, travel ke Banyuwangi bisa mengantar Anda lebih dekat ke teduhnya De Djawatan Benculuk. Rute travel Lintas Nusa ke BanyuwangiHutan De Djawatan Benculuk: Berjalan di Bawah Kanopi Trembesi Raksasa Banyuwangi

Mengenal Hutan De Djawatan Benculuk
Daya Tarik dan Aktivitas Wisata
Spot foto di bawah kanopi trembesi
Berjalan santai dan piknik
Naik andong atau ATV
Ngopi di kafe hutan
Fotografi dan konten
Lokasi dan Cara Menuju De Djawatan
Harga Tiket Masuk dan Biaya Wisata De Djawatan
Komponen Biaya Tiket masuk Sekitar Rp10.000 per orang Parkir motor Rp2.000 Parkir mobil Rp5.000 Andong dan ATV Tarif terpisah, tanyakan di lokasi Jam Operasional dan Waktu Terbaik Berkunjung
Fasilitas yang Tersedia
Tips Berkunjung ke De Djawatan
Sedikit Cerita di Balik Pohon Trembesi
Cocok untuk Siapa?
Daftar Bawaan yang Disarankan
Kesalahan yang Sering Dilakukan Wisatawan

Destinasi Wisata Terdekat
Rekomendasi Itinerary Satu Hari: De Djawatan dan Pulau Merah
Waktu Kegiatan 07.00 Berangkat dari kota Banyuwangi 08.00–10.00 Menjelajah De Djawatan, foto di bawah kanopi, ngopi di kafe hutan 10.30 Lanjut ke arah Pesanggaran 12.30 Makan siang di sekitar Pulau Merah 13.30–17.30 Bersantai di Pantai Pulau Merah, menunggu sunset 18.00 Kembali ke kota Banyuwangi (sekitar 1,5 jam perjalanan) FAQ Seputar Hutan De Djawatan Benculuk
Di mana lokasi Hutan De Djawatan?
Berapa harga tiket masuk De Djawatan?
Jam berapa De Djawatan buka?
Pohon apa yang ada di De Djawatan?
Apakah De Djawatan cocok untuk anak dan lansia?
Berapa lama waktu yang dibutuhkan di De Djawatan?
Kesimpulan: Rehat Teduh yang Mudah Dijangkau
Sumber Referensi
Spot fotoRamah keluargaHutan trembesiCluring
Lokasi
Tiket
Jam buka
Waktu terbaik
