Desa Adat Osing Kemiren: Menyelami Budaya Asli Banyuwangi dari Secangkir Kopi

Panduan Wisata Banyuwangi

Desa Adat Osing Kemiren: Menyelami Budaya Asli Banyuwangi dari Secangkir Kopi

Di desa ini, tamu disambut dengan filosofi suguh, gupuh, lungguh. Anda pulang bukan hanya membawa foto, tetapi juga cerita tentang suku asli Banyuwangi.

Budaya OsingKopiHomestayTradisi
Lokasi

Desa Kemiren, Kec. Glagah, Banyuwangi

Tiket

Belum ada data tiket desa terverifikasi; aktivitas & homestay berbayar

Jam buka

Desa terbuka; jam layanan wisata ikuti Pokdarwis

Waktu terbaik

Saat festival Tumpeng Sewu atau Barong Ider Bumi

Informasi diperiksa per 13 Oktober 2026. Tarif dan jadwal dapat berubah sewaktu-waktu; konfirmasi ke pengelola sebelum berangkat.

Bayangkan duduk di teras rumah kayu beratap tinggi, ditemani secangkir kopi hitam yang baru disangrai dan suara lesung yang ditabuh bersahutan. Pengalaman sesederhana itu menjadi alasan banyak orang jatuh cinta pada Desa Adat Osing Kemiren. Desa di kaki pegunungan Ijen ini adalah tempat terbaik untuk mengenal suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi yang masih memegang teguh adat leluhur.

Rumah adat suku Osing di Desa Wisata Adat Kemiren Banyuwangi
Rumah-rumah berarsitektur Osing masih dipertahankan warga Desa Kemiren.

Kemiren bukan museum. Tradisinya hidup dan dijalankan oleh warganya sehari-hari, dari cara menyambut tamu sampai upacara adat tahunan yang menarik ribuan pengunjung. Pengakuannya pun sudah sampai tingkat internasional. Panduan ini membantu Anda merencanakan kunjungan yang bermakna dan menghormati tuan rumah.

Mengenal Desa Adat Osing Kemiren

Desa Kemiren terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, dengan jumlah penduduk sekitar 2.569 jiwa. Nama Kemiren berasal dari kata kemirian, merujuk pada banyaknya pohon kemiri di wilayah ini pada masa lalu. Desa ini berada di jalur menuju kawasan Ijen, sehingga mudah digabungkan dengan perjalanan ke gunung.

Suku Osing memiliki beberapa komunitas adat yang tersebar di Banyuwangi, dan Kemiren dikenal sebagai salah satu yang paling kuat menjaga adat istiadatnya. Pemerintah daerah kemudian menetapkannya sebagai desa wisata adat, dan warganya mengelola kegiatan wisata melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Pengakuan yang diterima Kemiren cukup panjang. Desa ini menerima Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), sertifikat Desa Wisata Berkelanjutan, ASEAN Tourism Award 2025, dan terpilih dalam The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 dari UN Tourism, badan pariwisata PBB. Saat ini tersedia sekitar 50 homestay dengan total 92 kamar yang dikelola warga.

Ketua adat Osing Kemiren menyebut warga diajarkan tiga sikap dalam menerima tamu: suguh, gupuh, lungguh. Artinya kurang lebih menyajikan hidangan, menyambut dengan antusias, dan mempersilakan duduk. Filosofi inilah yang membuat Kemiren terkenal dengan suguhan kopinya, meski desa ini sebenarnya bukan daerah penghasil kopi.

Daya Tarik dan Aktivitas Wisata

Rumah adat Osing

Arsitektur Osing dikenali dari bentuk atapnya yang khas. Di Kemiren, banyak rumah berarsitektur tradisional yang masih dipertahankan dan sebagian difungsikan sebagai homestay. Berjalan kaki menyusuri jalan utama desa adalah cara terbaik menikmatinya.

Ngopi di kedai tradisional

Kemiren punya banyak gerai kopi tradisional yang ramai dikunjungi setiap hari. Anda bisa melihat proses menyangrai kopi dengan cara tradisional dan mencicipi kopi Osing, termasuk produk unggulan desa yang dikenal dengan nama kopi Jaran Goyang.

Kesenian: Gandrung dan gedhogan

Desa ini memiliki sanggar tari Gandrung, tarian khas Banyuwangi. Ada pula musik gedhogan atau gejog lesung, yaitu musik dari lesung yang ditabuh bersama. Pertunjukan biasanya bisa diatur melalui Pokdarwis untuk rombongan.

Kuliner khas

Pecel pitik, olahan ayam kampung dengan bumbu kelapa berpadu kemiri, adalah hidangan yang identik dengan Kemiren dan menjadi sajian utama dalam tradisi Tumpeng Sewu. Coba juga jajanan tradisional seperti kue kucur.

Belanja kerajinan dan batik

Batik khas Banyuwangi, anyaman, dan produk UMKM warga bisa dibeli langsung di desa. Belanja di sini ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Tradisi Tahunan yang Wajib Diketahui

Kalender adat Kemiren menjadi daya tarik terbesar. Beberapa tradisi yang paling dikenal:

  • Barong Ider Bumi, arak-arakan barong keliling desa yang dipercaya sebagai ritual tolak bala.
  • Tumpeng Sewu, ribuan tumpeng berlauk pecel pitik digelar di depan rumah warga dan disantap bersama.
  • Ngopi Sepuluh Ewu (Festival Ngopi Sewu), ribuan cangkir kopi disajikan warga di sepanjang jalan desa untuk para tamu.
  • Mepe Kasur, tradisi menjemur kasur bersama-sama yang memiliki makna kebersihan dan keharmonisan rumah tangga.
  • Mocoan Lontar Yusuf, pembacaan naskah lontar yang masih dilestarikan.

Tanggal pelaksanaan setiap tradisi mengikuti kalender adat dan agenda Banyuwangi Festival, sehingga berbeda tiap tahun. Pantau kanal resmi pariwisata Banyuwangi sebelum menjadwalkan perjalanan.

Lokasi dan Cara Menuju Desa Kemiren

Alamat: Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Kemiren berada di sisi barat kota Banyuwangi, di jalur yang biasa dilalui wisatawan menuju Kawah Ijen. Dari pusat kota, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi, ojek daring, atau mobil sewaan dan mengarahkan perjalanan ke Kecamatan Glagah. Waktu tempuhnya tidak lama, tetapi kami belum menemukan angka jarak resmi sehingga tidak mencantumkannya.

Jika Anda datang dari luar kota dengan travel, minta diturunkan di penginapan atau titik di kota Banyuwangi, lalu lanjutkan dengan kendaraan lokal.

Harga Tiket Masuk dan Biaya Wisata Kemiren

Kemiren adalah desa yang dihuni warga, bukan objek wisata berpagar. Kami belum menemukan data tiket masuk desa yang terverifikasi dari pengelola. Biaya umumnya muncul dari aktivitas yang Anda pilih:

KomponenKeterangan
Masuk desaBelum ada data tiket resmi yang terverifikasi
Kopi dan kulinerSesuai harga di kedai/warung
Paket budaya (tari, gedhogan, sangrai kopi)Diatur melalui Pokdarwis, tarif tergantung paket
HomestayTersedia sekitar 50 homestay, tarif tergantung pemilik

Untuk rombongan, hubungi Pokdarwis Kemiren terlebih dahulu agar paket kegiatan dan biayanya jelas sejak awal.

Jam Operasional dan Waktu Terbaik Berkunjung

Sebagai desa, Kemiren bisa dikunjungi kapan saja. Namun kedai kopi, sanggar, dan layanan wisata punya jam masing-masing. Datang pada pagi hingga sore hari adalah pilihan aman. Malam hari cocok untuk menikmati suasana desa jika Anda menginap.

Waktu terbaik adalah saat ada tradisi atau festival seperti Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, atau Ngopi Sepuluh Ewu. Konsekuensinya, desa akan sangat ramai. Jika Anda lebih suka suasana tenang dan interaksi lebih dekat dengan warga, pilih hari biasa dan menginap semalam di homestay.

Fasilitas yang Tersedia

  • Sekitar 50 homestay dengan total 92 kamar milik warga
  • Kedai kopi tradisional dan warung kuliner Osing
  • Sanggar seni dan ruang pertunjukan
  • Pojok UMKM untuk kerajinan, batik, dan kopi
  • Akses internet di ruang publik melalui program Smart Kampung
  • Area parkir (kapasitas terbatas saat festival)

Tips Berkunjung ke Kemiren

  • Berpakaian sopan. Anda bertamu ke desa yang dihuni warga dengan adat yang dijaga.
  • Minta izin sebelum memotret warga, rumah, atau prosesi adat.
  • Ikuti arahan panitia saat upacara. Beberapa ritual punya aturan yang tidak boleh dilanggar.
  • Belanja di UMKM lokal dan pilih homestay warga agar manfaat wisata dirasakan langsung oleh masyarakat.
  • Datang lebih awal saat festival karena parkir dan jalan desa cepat penuh.
  • Bawa tumbler untuk mengurangi sampah gelas plastik.

Etika Bertamu di Desa Adat

Kunjungan ke Kemiren berbeda dari kunjungan ke objek wisata biasa. Anda masuk ke ruang hidup warga, sehingga beberapa kebiasaan kecil sangat dihargai.

Pertama, sapa warga dengan ramah dan jangan ragu bertanya. Warga Kemiren umumnya senang bercerita tentang tradisi mereka. Kedua, jangan masuk ke halaman atau rumah tanpa dipersilakan, meski pintunya terbuka. Ketiga, saat menghadiri upacara, posisikan diri sebagai tamu: berdiri di area yang ditentukan, jangan menghalangi prosesi, dan matikan lampu kilat kamera.

Keempat, hargai makanan yang disuguhkan. Dalam tradisi seperti Tumpeng Sewu, hidangan disajikan sebagai bentuk syukur dan kebersamaan. Ambil secukupnya dan habiskan.

Terakhir, jika ingin mendokumentasikan kegiatan untuk keperluan komersial, misalnya konten berbayar atau foto produk, mintalah izin kepada Pokdarwis atau tokoh adat terlebih dahulu.

Cocok untuk Siapa?

Kemiren cocok untuk keluarga yang ingin mengenalkan budaya kepada anak, pelajar dan mahasiswa yang melakukan studi budaya, pencinta kopi, serta wisatawan yang ingin pengalaman berbeda dari wisata alam. Fotografer dokumenter juga akan menemukan banyak cerita di sini, asalkan selalu meminta izin.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Wisatawan

  • Datang saat festival tanpa rencana parkir. Jalan desa cepat penuh.
  • Memotret warga dan prosesi tanpa izin.
  • Hanya mampir sebentar. Kemiren paling terasa jika Anda meluangkan waktu, idealnya menginap semalam.
Poster Wisata Banyuwangi: Pesona Alam Timur Jawa
Pesona alam timur Jawa: rangkuman destinasi wisata Banyuwangi.

Destinasi Wisata Terdekat

  • Kawah Ijen, berada di arah barat dan satu jalur dengan Kemiren. Banyak wisatawan menginap di Kemiren sebelum mendaki dini hari.
  • Pantai Boom Marina, di kota Banyuwangi, cocok untuk sore hari.
  • Air Terjun Jagir, air terjun kembar di wilayah Glagah yang mudah diakses dan ramah keluarga.

Rekomendasi Itinerary Satu Hari (Plus Ijen)

WaktuKegiatan
09.00Tiba di Kemiren, jalan kaki menyusuri rumah adat
10.30Ngopi di kedai tradisional, melihat proses sangrai kopi
12.00Makan siang pecel pitik dan kuliner Osing
13.30Kunjungan sanggar Gandrung atau gedhogan (jika ada jadwal/paket)
15.00Belanja kerajinan dan batik di pojok UMKM
16.00Check-in homestay, istirahat
19.00Makan malam, tidur lebih awal
00.30Berangkat ke Paltuding untuk pendakian Kawah Ijen

Jadwal ini cocok bagi Anda yang ingin menggabungkan wisata budaya dan alam dalam satu kali datang.

FAQ Seputar Desa Wisata Adat Osing Kemiren

Di mana lokasi Desa Adat Osing Kemiren?

Di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, di sisi barat kota dan berada di jalur menuju kawasan Ijen.

Apakah ada tiket masuk ke Desa Kemiren?

Kami belum menemukan data tiket masuk desa yang terverifikasi. Biaya biasanya muncul dari kopi, kuliner, paket budaya, dan homestay. Hubungi Pokdarwis untuk paket rombongan.

Apa tradisi paling terkenal di Kemiren?

Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Ngopi Sepuluh Ewu, Mepe Kasur, dan Mocoan Lontar Yusuf. Jadwalnya mengikuti kalender adat dan agenda Banyuwangi Festival.

Apakah bisa menginap di Kemiren?

Bisa. Desa ini memiliki sekitar 50 homestay dengan total 92 kamar yang dikelola warga.

Apakah Kemiren cocok untuk keluarga?

Sangat cocok. Anak-anak bisa belajar budaya, melihat pertunjukan seni, dan mencicipi kuliner tradisional dalam suasana desa yang aman.

Apa makanan khas Kemiren?

Pecel pitik, ayam kampung dengan bumbu kelapa dan kemiri, yang juga menjadi sajian utama dalam tradisi Tumpeng Sewu. Kopi Osing juga wajib dicoba.

Kesimpulan: Kemiren, Tempat Mengenal Jiwa Banyuwangi

Kemiren memberi pengalaman yang sulit ditemukan di destinasi lain: budaya yang dijalankan sehari-hari oleh pemiliknya, keramahan yang punya filosofi, dan kopi yang disuguhkan dengan bangga. Pengakuan dari ASEAN dan UN Tourism memperkuat apa yang sudah lama dirasakan para tamunya.

Rencanakan kunjungan bertepatan dengan festival jika ingin kemeriahan, atau datang di hari biasa untuk interaksi yang lebih hangat. Bagi Anda yang berangkat dari Surabaya, Malang, atau Bali, travel ke Banyuwangi bisa menjadi langkah awal untuk merasakan sendiri suasana Desa Adat Osing Kemiren.

Rute travel Lintas Nusa ke Banyuwangi

Sumber Referensi

  1. Indonesia.travel: Desa Wisata Adat Osing Kemiren — lokasi, penduduk, asal nama, event, produk unggulan, sertifikasi
  2. beritajatim: Festival Ngopi Sewu dan Desa Kemiren — tradisi, filosofi suguh gupuh lungguh, UN Tourism Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025
  3. GNFI: Desa Sejahtera Astra Kemiren (Juli 2026) — 50 homestay/92 kamar, penghargaan ADWI dan ASEAN Tourism Award 2025
  4. Kabar Bursa: Astra dan Kemenpar dorong wisata budaya Osing — gejog lesung, sangrai kopi, kue kucur
  5. Jurnal Undiksha: Perubahan sosial masyarakat Osing Kemiren — tradisi Mepe Kasur, Lontar Yusuf, jalur ke Ijen

Rate this post